Cara Kerja Balon Udara Google

Cara Kerja Balon Udara Google – Balon udara Google atau yang lebih dikenal sebagai Project Loon sudah digagas sang raksasa internet sejak tahun 2011 lalu. Namun, akhir-akhir ini nama Project Loon kembali mencuat, khususnya di Indonesia pasca tiga operator besar Tanah Air berencana untuk melakukan uji coba balon internet itu. Sedikit menoleh ke belakang, yuk kita cari tahu bagaimana teknologi ini bisa membantu menebar akses internet, bahkan hingga daerah terpencil.

Google-Project-Loon

Mulai diuji coba pada tahun 2013 di New Zealand, Project Loon sejatinya berawal dari program incubator Google X di mana terlibat sejumlah ahli riset terbaik yang dimiliki Google. Konsep awal dari Project Loon terbilang sederhana, yakni menerbangkan router wireless untuk mencari tahu apakah dengan jarak setinggi apakah sinyal yang dipancarkan dari router masih bisa diterima.

Pada versi pertama, balon udara internet tersebut memiliki diameter 15 meter, di mana setiap balon memerlukan sekitar 12 tangki helium. Pada tahap awal pengujian, balon yang siap memancarkan Wi-Fi tersebut diterbangkan dengan ketinggian sekitar 10 km dari atas laut. Untuk dapat menerima sinyal Wi-Fi yang dipancarkan maka dipasang sebuah antenna khusus pada rumah-rumah penduduk.

Adapun jika dibanding dengan cara kerja ponsel dalam menerima sinyal dari BTS atau menara pemancar selular, maka konsep dari Project Loon berkebalikan dari itu. Yup, jika ponsel yang kita miliki akan menerima sinyal dari satu menara ke menara lain ketika dalam keadaan bergerak sehingga ponsel tetap terhubung. Lewat Project Loon, Google mengganti router wireless yang memancarkan Wi-Fi menjadi jaringan 4G LTE. Nah, balon-balon tadi justru bergerak secara bergilir untuk terhubung dengan ponsel yang kita gunakan.

Bicara mengenai kemampuannya, setiap balon internet tersebut mampu mengudara selama lebih dari 100 hari dengan wilayah cakupan yang mencapai 5000 km per segi. Sementara untuk kecepatan 4G LTE yang bisa diterima oleh pengguna ponsel bisa mencapai hingga 15Mbps. Untuk perangkat Wi-Fi, balon-balon internet tersebut bisa memberikan kecepatan akses yang disebut bisa menyentuh angka 40Mbps.

Bila pada tahap awal balon Project Loon diterbangkan dengan ketinggian 10 km dari permukaan laut. Namun, untuk menghindari balon tersebut menggangu lalu lintas pesawat di udara, maka Google menyatakan bahwa balon-balon tadi akan diterbangkan dengan ketinggian 60.000 kaki atau sekitar 20 km dari atas permukaan laut atau dua kali dari ketinggian maksimal pesawat komersial.

Mengudara di ketinggian 20 km, balon Project Loon berada di lapisan stratosfer. Google menyatakan bahwa pihaknya merancang balon tersebut untuk dapat bergerak bersama angin di stratosfer serta akan membentuk jaringan komunikasi yang akan memancarkan akses internet ke area di sekitarnya.

Rencananya Project Loon akan memasukan masa percobaan pada tahun 2016 dengan pelaksanaan komersial akan memakan waktu 2-3 tahun selanjutnya. Uji coba Project Loon ini akan melalui 4G LTE di frekuensi 900 Mhz.

Cara Kerja Balon Udara Google | admin | 4.5